Tiga Klub Inggris Hadapi Tantangan Besar di Liga Champions
Tiga klub Inggris, Chelsea, Tottenham, dan Manchester City, menghadapi tantangan cukup berat di leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Ketiganya perlu membalikkan situasi dengan mengejar defisit tiga gol untuk menjaga harapan mereka meraih trofi. Meskipun tampak sulit, sejarah telah menunjukkan bahwa comeback besar dalam kompetisi ini bukanlah hal yang mustahil. Berikut adalah beberapa cerita comeback terbaik di Liga Champions.
Comeback Terbaru: Liverpool vs. Barcelona (2016/17)
Salah satu contoh paling baru terjadi tujuh tahun yang lalu. Setelah mengalami kekalahan 3-0 di leg pertama semifinal di Camp Nou, Liverpool FC seolah kehilangan segalanya. Namun, di Anfield, sesuatu yang tak terduga terjadi. The Reds berhasil menang 4-0 di leg kedua dan melaju ke final.
Keajaiban Roma (2017)
Satu tahun sebelum kehampaan di Liverpool, Barcelona sudah merasakan pengalaman pahit serupa. Setelah menang 4-1 di leg pertama perempat final melawan Roma, langkah mereka ke babak selanjutnya tampak hanya formalitas. Namun, Giallorossi mengejutkan dengan menang 3-0 di leg kedua dan melaju berkat aturan gol tandang yang kini sudah dihapus.
Barcelona vs. Paris Saint-Germain (2016/17)
Beberapa tahun kemudian, Barcelona seakan kehabisan keberuntungan setelah comeback dramatis sembilan tahun lalu. PSG telah mengalahkan Blaugrana 4-0 di leg pertama babak 16 besar musim 2016/17. Sebuah keajaiban yang lebih besar dari yang dihadapi tim Premier League tahun ini diperlukan. Namun, seminggu setelah kekalahan tersebut, Barcelona menciptakan sebuah keajaiban di leg kedua yang dikenal sebagai “La Remontada.”
Di tiga menit terakhir waktu normal, Messi dan tim masih membutuhkan tiga gol. Neymar Jr. berhasil mencetak satu gol melalui tendangan bebas dan penalti. Gol penentu dibuat oleh Sergi Roberto, yang membuat suasana di Camp Nou menjadi sangat meriah.
Liverpool vs. AC Milan (2005)
Walaupun ini bukan pertandingan dengan format dua leg, laga ini menjadi salah satu comeback paling terkenal dalam sejarah. Dalam final Liga Champions, Liverpool tertinggal 3-0 di babak pertama. Namun, mereka mampu menyamakan kedudukan hanya dalam beberapa menit di babak kedua dan akhirnya menang melalui adu penalti. Pertandingan ini dikenal sebagai “Keajaiban Istanbul.”
Deportivo La Coruña vs. AC Milan (2004)
Tahun sebelumnya, Rossoneri juga mengalami kegagalan serupa. Kemenangan 4-1 di leg pertama ternyata tidak cukup, karena mereka kalah 0-4 di leg kedua tanpa perlawanan. Bahkan Carlo Ancelotti pun harus merasakan kekalahan yang menyakitkan dalam kariernya yang gemilang.
Dengan tantangan besar yang dihadapi oleh Chelsea, Tottenham, dan Manchester City, situasi ini mengingatkan kita bahwa harapan untuk melakukan comeback selalu ada di Liga Champions. Tim-tim ini kini berusaha membuktikan bahwa sejarah dapat terulang kembali.
(PL/GN)
sumber : onefootball.com
Leave a comment