Perbedaan Pelayanan Wasit Sepak Bola di Inggris dan Eropa
Sepak bola di Inggris memiliki aturan officiating yang berbeda dibandingkan dengan Eropa, dan insentif ekonomi berperan besar dalam perbedaan ini. Dengan lebih sedikit pelanggaran yang dipanggil dan lebih banyak permainan fisik, Liga Premier Inggris tetap menjaga statusnya sebagai kompetisi klub paling populer di dunia. Namun, harmonisasi perlahan-lahan dalam officiating mulai mengancam keunggulan komersial ini.
Pendidikan Sepak Bola Sejak Dini
Saya tumbuh di Inggris, bermain sepak bola setiap hari dengan teman-teman. Saya tidak menyadari secara penuh apa makna dari pendidikan sepak bola Inggris tersebut hingga saya pindah ke AS untuk studi pascasarjana dan mulai bermain dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Saya segera memperhatikan bahwa standar dalam menilai pelanggaran di kalangan pemain Amerika Latin dan Eropa selatan lebih rendah dibandingkan pemain Inggris. Selain itu, saya lebih sering meneriakkan “play on” ketika ada pelanggaran kecil yang mungkin bisa diabaikan.
Perbedaan Dalam Gaya Bermain
Tidak mengherankan, saya sedikit lebih cepat dan fisik dalam bermain dibandingkan teman-teman yang tidak memiliki latar belakang sepak bola Inggris. Saya menyadari bahwa mengasah kekuatan tubuh bagian atas lebih berguna dibandingkan berlatih juggling bola. Ini mencerminkan budaya yang sama di Premier League, di mana bintang lokal Inggris seperti Alan Shearer dan Paul Ince lebih mengandalkan kekuatan dibandingkan keahlian teknik pemain kontinental seperti Xavi Hernandez atau Andrea Pirlo.
Perbedaan Dalam Aturan dan Permainan
Perbedaan ini juga terlihat dalam ungkapan klasik Inggris, “when in doubt, kick it out,” yang tidak ditemukan dalam budaya sepak bola Spanyol atau Italia. Fokus pada kecepatan dan kelancaran permainan menjadi faktor penting dalam popularitas sepak bola Inggris di seluruh dunia. Liga Premier Inggris memiliki sekitar 25 persen lebih sedikit penghentian akibat pelanggaran dibandingkan liga kompetitor di Spanyol dan Italia, yang memudahkan mereka memperoleh hampir $4 miliar setiap tahunnya dari hak siar televisi domestik dan internasional.
Dampak VAR Terhadap Pelayanan Wasit
Organisasi sepak bola dunia, FIFA, berusaha untuk menstandarisasi permainan, termasuk dalam officiating. Meskipun sering toleran terhadap keinginan Inggris untuk menjaga filosofi pengadilannya yang unik, hal itu semakin sulit dilakukan dengan adanya video-assisted refereeing (VAR). Pengulangan play yang kontroversial dalam slow motion membuat pengadil cenderung memanggil pelanggaran setiap kali terjadi kontak fisik, serta mendorong mereka untuk mengikuti aturan tertulis yang homogen daripada kebiasaan tak tertulis sepak bola Inggris.
Perubahan dalam Komposisi Pemain dan Pelatih
Dari pertengahan 1990-an, sebelum “Bosman ruling” yang memungkinkan pergerakan bebas pemain di dalam Uni Eropa, klub-klub Inggris dibatasi pada tiga pemain non-British. Namun, saat ini hanya sekitar sepertiga dari total pemain yang terdaftar di Premier League merupakan pemain Inggris, dengan hanya 15 persen pelatih yang berasal dari Inggris.
Akibatnya, terjadi evolusi organik dalam mentalitas sepak bola, di mana anak-anak yang tumbuh menonton pemain tradisional seperti Tony Adams kini dibanjiri oleh pemain dengan kemampuan teknis modern seperti John Stones.
Akhir Kata
Perubahan dalam officiating dan filosofi permainan memang tak bisa dihindari, namun hal ini perlu dicermati oleh otoritas sepak bola terkait dampaknya terhadap popularitas dan nilai fundamental olahraga ini. Kecepatan dan kelonggaran teknis yang ditawarkan Liga Premier pada era 1990-an, seperti ketika Liverpool mengalahkan Newcastle dengan skor 4-3 berturut-turut, selalu didukung oleh keputusan wasit yang mengedepankan permainan yang lebih bebas dari pelanggaran. Dalam konteks ini, menjaga tradisi seperti ini mungkin menjadi hal yang sangat berharga untuk dipertahankan.
(PL/GN)
sumber : www.thenationalnews.com
Leave a comment