Leicester City Terdegradasi: Momen Kelam untuk Klub
LEICESTER – Leicester City merayakan ulang tahun kesepuluh dari kisah luar biasa mereka di Premier League dengan cara yang pahit. Sebelum pertandingan, mereka diboo oleh penggemar sendiri, yang melontarkan nyanyian marah dan meminta pemilik klub untuk “pergi dari klub kami”. Setelah hasil buruk, Leicester pun terdegradasi ke League One.
Kisah Kejayaan Berubah Menjadi Kepedihan
Hampir satu dekade telah berlalu sejak Claudio Ranieri membawa Leicester meraih gelar Premier League dengan odds 5000-1. Tidak banyak yang memperdebatkan bahwa itu adalah salah satu prestasi yang paling tidak mungkin di dunia sepak bola.
Namun, saat ini suasana tidak ada lagi kebahagiaan. Tidak ada lagi penyanyi terkenal seperti Andrea Bocelli yang membawakan “Nessun Dorma”. Yang terlihat hanya kepahitan, dengan pemilik klub Aiyawatt Srivaddhanaprabha menyusutkan bahu dan menghela nafas saat penggemar menyanyikan “pecat dewan” setelah peluit akhir berbunyi.
Refleksi di Tengah Krisis
Manajer Leicester, Gary Rowett, yang menjabat setelah Andy King, mengatakan, “Ini adalah perjalanan yang sulit dan klub harus belajar dari pengalaman ini. Kita tidak terdegradasi hanya karena beberapa pertandingan, tetapi selama satu musim.”
Matt Piper, mantan pemain Leicester, menggambarkan terdegradasi ini sebagai “momen terburuk” dalam sejarah klub. “Leicester berada di League One tanpa kepemimpinan yang jelas. Ketika tidak ada kepemimpinan, segalanya akan memburuk,” tuturnya.
Realitas Baru di League One
Setelah hasil imbang 2-2 melawan Hull City, Leicester kini berbagi nasib yang sama dengan tim seperti Swindon Town dan Southampton, dengan dua kali terdegradasi berturut-turut dari Premier League ke League One. Musim depan, Leicester akan menghadapi pertandingan melawan tim-tim seperti Bromley dan derby lokal melawan Mansfield Town.
Penyebab Keterpurukan
Kemenangan Leicester pada 2016 mungkin dianggap sebagai kejayaan, namun upaya untuk membangun tim berprestasi belum cukup. Tim yang meraih gelar pada tahun itu dibentuk dengan rekrutmen cerdas, merekrut pemain-pemain dengan biaya rendah.
Setelah kepergian N’Golo Kante dan Riyad Mahrez, Leicester berhasil mengantongi uang dari transfer mereka. Namun, segala sesuatunya mulai goyah seiring dengan dampak pandemi Covid-19, yang menyebabkan kerugian besar bagi klub.
Reaksi Penggemar dan Langkah Selanjutnya
Saat ini, banyak penggemar yang menyalahkan kepemilikan klub dan memprotes di luar stadion setelah pertandingan. Dengan kalimat-kalimat menuntut perubahan, seperti “kami ingin klub kami kembali” dan “King Power, pergi dari klub kami”, tampak jelas bahwa dukungan penggemar tengah memudar.
Leicester City harus menghadapi tantangan besar untuk kembali ke pentas tertinggi. Pemilik klub berupaya membayar utang dan menstabilkan tim, namun kepercayaan penggemar perlu direbut kembali. Dengan sejarah yang kaya dan kenangan manis, masa depan Leicester kini tergantung pada langkah-langkah strategis untuk bangkit dari keterpurukan ini.
(PL/GN)
sumber : www.espn.com
Leave a comment