Diskriminasi Rasial dalam Sepak Bola: Tantangan yang Masih Ada
Insiden di Laga Derby
Pada tahun 2018, seorang suporter Tottenham Hotspur melemparkan kulit pisang yang mendarat dekat striker Arsenal, Pierre-Emerick Aubameyang, saat pertandingan derby North London. Momen ini berhasil diabadikan oleh seorang fotografer dan menjadi simbol jelas dari masalah diskriminasi rasial dalam sepak bola.
Tindakan tersebut diakui dan dikutuk secara luas oleh komunitas sepak bola. Para pejabat tim Tottenham dan Arsenal menanggapi dengan mengekspresikan kemarahan mereka dan menekankan bahwa insiden semacam itu tidak dapat diterima dalam sepak bola global.
Konsekuensi bagi Pelaku
Suporter yang melakukan aksi tersebut dikenakan denda £500 dan dilarang hadir di pertandingan selama empat tahun. Pada musim yang sama, nilai kesepakatan siaran televisi domestik di Premier League mencapai £5,1 miliar.
Namun, masih banyak insiden diskriminasi rasial yang terjadi, dan sanksi yang diberikan sering kali tidak memadai, menunjukkan kelemahan dalam sistem yang ada untuk melindungi pemain dan mencegah tindakan serupa.
Pandangan Terhadap Diskriminasi
Banyak pemain yang menjadi korban diskriminasi rasial di sepak bola malah sering mendapatkan dorongan dari suporter dan komentator untuk menerima perilaku tersebut sebagai "realitas yang menyedihkan dalam olahraga." Dalam beberapa situasi, korban bahkan disalahkan karena dianggap memicu tindakan tersebut. Respons semacam ini hanya menormalkan diskriminasi dan mengalihkan tanggung jawab dari pelaku serta institusi yang seharusnya menciptakan lingkungan olahraga yang aman dan inklusif.
Ketika jajaran pemain Inggris mengalami pelecehan rasial di Bulgaria, UEFA hanya mengenakan denda sebesar €75.000 kepada federasi sepak bola Bulgaria. Mengingat sumber daya besar yang dimiliki sepak bola Eropa, denda ini tidak cukup memberikan efek jera.
Upaya Institusi dan Tantangan yang Ada
Badan sepak bola sudah bertahun-tahun mengembangkan dan mempromosikan inisiatif anti-diskriminasi yang terlihat dan simbolis. Meski upaya tersebut sering kali melibatkan kampanye kesadaran dan pernyataan publik, kritik muncul bahwa langkah-langkah ini tidak menghasilkan perubahan struktural yang signifikan atau mengurangi pelecehan rasial dalam olahraga.
Realitas di Balik Layar
Di balik kesan indah Premier League, sistem akademi yang mengasuh remaja berkulit hitam dan coklat sering kali beroperasi tanpa pengawasan yang memadai. Sejak 2008, terbukti bahwa banyak akademi sepak bola yang tidak terdaftar beroperasi di negara-negara seperti Ghana, menjerat keluarga dalam utang dengan janji kesempatan di Eropa yang tidak terealisasi.
Rasisme di stadion seolah memungkinkan organisasi seperti FIFA dan Premier League untuk menganggap masalah ini timbul dari luar, bukan dari dalam struktur mereka sendiri. Melawan kebijakan migrasi tenaga kerja mereka sendiri bukanlah hal yang mudah dilakukan.
Pentingnya Kesadaran dan Perlindungan
Sebuah studi pada 2024 menemukan bahwa lebih dari separuh pemain sepak bola profesional yang disurvei melaporkan mengalami stres psikologis, dengan diskriminasi rasial menjadi salah satu penyebabnya. Hal ini menunjukkan bahwa rasisme bukan hanya masalah etika, tetapi juga masalah kesehatan kerja yang serius. Paparan kronis terhadap diskriminasi dapat menimbulkan risiko kesehatan yang nyata bagi para pemain.
Sementara badan federasi memiliki akses ke data ini, tidak ada motivasi struktural untuk menganggap rasisme sebagai masalah yang memerlukan penanganan sistematis. Dalam situasi di mana pemain mendapat ancaman secara online, tidak ada protokol yang setara dengan penanganan cedera fisik.
Masa Depan dan Tanggung Jawab
Pada Piala Dunia FIFA 2026 mendatang, seperti turnamen sebelumnya, pemain, staf, dan suporter dari latar belakang rasial akan memasuki stadion yang tidak sepenuhnya aman dari lingkungan yang rasis. Meskipun FIFA menjanjikan inklusi, mereka belum menyediakan pemantauan berbasis kesehatan yang memadai.
Piala Dunia di Amerika Utara akan diwarnai dengan janji bersatu dan menghormati budaya yang berbeda. Namun, penting untuk bertanya, siapa yang benar-benar diuntungkan dari pekerjaan atlet berkulit hitam dan coklat, dan siapa yang akan melindungi mereka saat pelecehan terjadi.
Pertanyaan utama yang harus dijawab adalah apakah ada pihak berkuasa yang akan mengakui sistem yang menjadikan rasisme sebagai hal yang tak terelakkan dalam olahraga. Jika pertanyaan ini tidak dijawab, upaya-upaya untuk melawan rasisme tidak akan pernah mampu menghasilkan perubahan yang berarti.
(PL/GN)
sumber : theconversation.com
Leave a comment