Polemik Serie A: Rencana Laga AC Milan Kontra Como di Australia Picu Gelombang Penolakan
Rencana Serie A untuk menggelar pertandingan AC Milan kontra Como di Perth, Australia, memicu gelombang protes dan kontroversi. CEO Serie A, Luigi De Siervo, berdalih bahwa langkah ini bertujuan untuk menghormati penggemar global dan mencegah Serie A kehilangan pamor dari olahraga lain seperti NFL dan NBA, yang telah lebih dulu merambah pasar internasional. De Siervo bahkan menyamakan keputusan ini dengan nasib ekonomi sepak bola itu sendiri.
Namun, keputusan ini justru memancing amarah hampir semua pihak: mulai dari pemain, penggemar, hingga UEFA. Meskipun demikian, tampaknya hanya intervensi eksternal, seperti pembatalan laga Villarreal-Barcelona di Miami sebelumnya, yang benar-benar mampu menghentikan rencana kontroversial ini.
Penolakan Meluas dari Berbagai Pihak
Dua bintang AC Milan, Adrien Rabiot dan Mike Maignan, secara terbuka menolak ide ini. Dukungan juga datang dari para pelatih top seperti Cesc Fabregas dan Massimiliano Allegri. Pelatih Como, menjelang pertandingan melawan Parma, menyatakan bahwa laga di Perth belum dikonfirmasi dan menekankan pentingnya “orang-orang adalah yang terpenting. Mereka yang berkorban, tidak tidur, atau menghabiskan gajinya untuk mengikuti kami.”
Fans Como juga menyampaikan sentimen serupa di tribun saat melawan Juventus dengan spanduk bertuliskan “Lega Italiana a gambe Aperth”, mengganti huruf ‘E’ dengan simbol euro, menyiratkan kritik terhadap motif finansial. Bahkan Presiden Inter Milan, Giuseppe Marotta, dilaporkan menolak tawaran Serie A untuk bermain di Perth, dengan alasan jadwal Inter yang padat, terutama karena San Siro akan digunakan untuk Olimpiade Milan-Cortina 2026.
Meskipun mendapat penolakan kuat dari media dan berbagai pihak, rencana pemindahan pertandingan ini belum dibatalkan dan tetap tidak dipindahkan kembali ke Italia. Situasi ini mencerminkan perbandingan antara La Liga dan Serie A di masa lalu, di mana Javier Tebas dari La Liga pertama kali mempromosikan gagasan memainkan pertandingan liga di luar Eropa.
Motif Ekonomi di Balik Laga Lintas Benua
Kasus di Spanyol menjadi gambaran jelas permasalahan ini. Laga Villarreal-Barcelona di Miami, yang disetujui UEFA meski ada penolakan, memiliki kemiripan dengan rencana Milan-Como. UEFA mencatat FIFA belum memiliki regulasi jelas terkait pertandingan semacam ini. Kedua organisasi ini memiliki pandangan berbeda; UEFA mempertahankan nilai-nilai tradisional sepak bola Eropa setelah insiden Liga Super, sementara FIFA di bawah Gianni Infantino fokus pada ekspansi global.
Tidak seperti Milan yang kemungkinan memiliki masalah stadion (San Siro untuk Olimpiade), laga Villarreal di Miami murni bermotivasi ekonomi. Untuk laga Milan-Como, situasinya serupa, namun tanpa justifikasi tambahan yang kuat. Keuntungan yang diharapkan menyerupai kasus di Spanyol: Villarreal, sebagai tim tuan rumah, mendapatkan lebih dari €6 juta termasuk kompensasi pendapatan pertandingan yang hilang, sementara Barcelona menerima €5-6 juta sebagai tim tamu. Uang tersebut berasal dari Relevant, promotor acara, yang memungkinkan La Liga menghindari pembayaran langsung kepada klub. Ini menyoroti tingginya kepentingan finansial dari pertandingan di luar negeri. Villarreal mendapatkan keuntungan signifikan, rata-rata €2-3 juta per pertandingan kandang. Barcelona juga untung, tetapi €5 juta mungkin dianggap meremehkan nilai merek mereka, mencerminkan tekanan finansial di bawah manajemen Laporta.
Alasan ekonomi dan pemasaran seringkali dijadikan justifikasi untuk keputusan yang tidak populer. De Siervo mengklaim langkah ini untuk keuntungan jangka panjang. Di Italia, Calcio&Finanza melaporkan bahwa Australia akan membayar klub, sementara Serie A menanggung biaya perjalanan sekitar €3-4 juta. Milan dan Como akan berbagi €8-9 juta, dengan Milan menerima bagian lebih besar sebagai tim tuan rumah. Delapan belas klub lainnya juga akan mendapatkan biaya yang tidak ditentukan. Pendapatan ini memang lumayan, namun berisiko menciptakan preseden berbahaya dan bertentangan dengan asas sportivitas. Laga La Liga di Miami menghadapi kritik serupa, terutama dari Presiden Real Madrid Florentino Perez, yang menentang Tebas dan khawatir Barcelona akan mendapatkan keuntungan kompetitif. Risiko yang sama ada untuk Milan-Como jika tim yang bersaing meraih gelar atau tiket Eropa kehilangan keuntungan kandangnya.
Potensi Pasar Australia yang Dipertanyakan
Dari segi pemasaran, Australia tampaknya pilihan yang kurang tepat. Liga A-League masih berjuang untuk investasi dan perhatian, dan sepak bola kemungkinan tidak termasuk dalam lima besar olahraga paling banyak ditonton. Meskipun ada hubungan antara sepak bola Italia dan Australia, dengan pemain seperti Mark Bresciano, Vincenzo Grella, Joshua Brillante, Trent Sainsbury, Alessandro Diamanti, Massimo Maccarone, dan Alessandro Del Piero pernah bermain di sana, serta komunitas Italia yang cukup besar, minat lokal dan potensi pasar tetap terbatas. Pendapatan hak siar televisi sangat minim, mungkin yang terburuk dibandingkan benua lain.
Pembelaan De Siervo yang Kontroversial
De Siervo kepada Cronache di Spogliatoio menyatakan bahwa pemain dan pelatih terlalu memikirkan keuntungan sesaat, terpengaruh oleh insting. Ia membandingkan Serie A dengan NBA, NFL, dan Giro d’Italia yang juga dimulai di luar negeri. Namun, perbandingan ini dinilai kurang tepat, sebab Serie A memiliki keuntungan kandang yang tidak dimiliki Giro. Laga Milan-Como hanya mewakili 0,26% dari total pertandingan Serie A, memunculkan pertanyaan apakah layak mengubah format kompetisi demi persentase sekecil itu. Persetujuan dari AFC dan FIFA masih tertunda, namun tampaknya hanya bersifat prosedural. Serie A memberikan suara bulat untuk Perth, tidak seperti La Liga yang mengalami konflik internal. Presiden klub yang menentang mungkin bertindak oportunistis.
Dampak Jangka Panjang dan Tantangan bagi Serie A
Tebas menyebut pembatalan laga Miami sebagai “peluang yang terlewatkan” dan memperingatkan ancaman terhadap tradisi sepak bola Eropa dari badan pengelola. Laga Serie A ini mungkin masih bisa dibatalkan, dengan Stadion Tardini sedang dipertimbangkan sebagai alternatif. Laga Milan-Como secara ekonomi tidak menawarkan keuntungan besar. Keputusan ini lebih tampak seperti upaya meraih keuntungan sesaat yang minim tanpa perencanaan masa depan yang matang, demikian laporan Ultimo Uomo.
Situasi ini menunjukkan bahwa Serie A berusaha meniru NFL, menargetkan pasar global, namun mengabaikan perbedaan budaya dan etika. Pernyataan publik dari De Siervo menunjukkan perlawanan, namun kritik kemungkinan akan berulang, membahayakan laga-laga luar negeri di masa depan. Episode ini menyoroti kecenderungan sepak bola Italia untuk meniru inisiatif asing demi keuntungan instan, seringkali dengan manfaat nyata yang minimal.
(SA/GN)
sumber : milanreports.com
Leave a comment