Jejak Suram Serie A: Ketika 15 Laga Awal Tanpa Kemenangan Berujung Degradasi
Para pembaca yang mencari kisah-kisah cerah dan inspiratif, mohon bersabar sebentar. Hari ini, garisfinish.com akan mengajak Anda melihat sisi lain dari kompetisi Serie A yang penuh drama, yaitu catatan historis tim-tim yang mengawali musim tanpa satu pun kemenangan di 15 pertandingan pertama. Siap-siap, karena ini adalah perjalanan yang cukup suram.
Konteks Historis: Awal Musim Tanpa Kemenangan
Dalam 25 tahun terakhir Serie A, tercatat ada 8 tim yang memulai musim tanpa satu pun kemenangan dalam 15 pertandingan awal mereka. Sebagai pengingat, format Serie A sebelum musim 2004-2005 hanya terdiri dari 18 klub, yang tentu saja memengaruhi persaingan. Misalnya, finis di posisi ke-17 tidak selalu menjamin Como bertahan di liga saat itu. Namun, mari kita telusuri kembali rekor-rekor terburuk yang pernah disaksikan liga dalam seperempat abad terakhir ini. Satu hal yang pasti dari semua tim tersebut: mereka semua terdegradasi ke Serie B.
Kisah Tragis Tim-Tim yang Terdegradasi
Beberapa dari tim-tim ini masih terekam jelas dalam ingatan. Benevento, misalnya, mencatat rekor pertahanan yang sangat buruk, kebobolan 84 gol dalam satu musim. Angka ini mendekati rekor kebobolan terbanyak per pertandingan dalam sejarah Serie A, meskipun Lecce musim 2019-2020 kebobolan 85 gol dan masih memiliki peluang untuk bertahan hingga tiga minggu terakhir. Benevento menarik perhatian karena saat itu Lorenzo Venuti bermain di sana dengan status pinjaman, sehingga cukup menarik untuk mengevaluasi apakah dia pemain yang layak namun terjebak dalam tim yang buruk, atau memang performanya juga menurun.
Lalu ada Chievo Verona. Tim ini seakan langsung menyerah sejak pertandingan kedua musim itu saat melawan Fiorentina, di mana mereka kalah telak 6-1. Salah satu gol ikonik dalam pertandingan itu dicetak oleh Nikola Milenković yang melesakkan tendangan keras. Menariknya, tim Fiorentina kala itu dilatih oleh Stefano Pioli. Sebuah lingkaran yang tidak pernah putus dalam sepak bola.
Nasib Pasca-Degradasi: Antara Keterpurukan dan Kebangkitan
Tentu saja, semua tim ini memiliki kesamaan: degradasi. Tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menciptakan dorongan berarti untuk bertahan di kasta tertinggi. Banyak di antaranya bahkan tidak pernah benar-benar pulih. Benevento, misalnya, kembali terdegradasi dari Serie B dua tahun setelah turun dari Serie A, meski kini mereka memimpin grup di Serie C. Ascoli berulang kali naik-turun antara divisi dua dan tiga. Sementara itu, Ancona menyatakan bangkrut pada tahun 2004, memulai lagi dari Serie C2, merangkak kembali ke Serie B, namun kembali menyatakan bangkrut pada tahun 2010, dan sekarang bermain di Serie D.
Namun, di antara kelompok 8 tim yang bernasib buruk ini, ada dua kisah sukses terbesar: Atalanta dan Como. La Dea, julukan Atalanta, tetap menjadi salah satu klub paling mengesankan di Eropa, sebuah keajaiban yang sulit dijelaskan secara rasional dan pantas mendapatkan semua respek. Como belum mencapai level itu, namun mereka memiliki kepemilikan yang kuat dan visi yang cerdas. Kedua klub ini bisa menjadi model bagi tim-tim lain yang sedang berjuang, termasuk Fiorentina.
Resep Bangkit: Peran Kepemilikan Baru
Apa yang menjadi benang merah antara Atalanta dan Como? Meskipun ini mungkin bukan kabar yang ingin didengar oleh para pemilik klub yang sedang berjuang, kedua tim ini mendapatkan kepemilikan baru yang melakukan “bersih-bersih” manajemen. Mereka menanamkan identitas baru yang memungkinkan klub untuk berkonsolidasi, stabil, dan akhirnya tumbuh. Mungkin terlalu menyederhanakan untuk mengatakan bahwa kepemilikan baru adalah satu-satunya harapan bagi Fiorentina untuk menghindari degradasi, namun preseden historis terbaru menunjukkan bahwa ini adalah jalur yang efektif untuk keluar dari situasi sulit tersebut.
(SA/GN)
sumber : www.violanation.com
Leave a comment