Kekhawatiran Terhadap Masa Depan Sepak Bola Italia
Dalam laga melawan Bosnia dan Herzegovina, Moise Kean menjadi satu-satunya pemain Italia berkulit non-putih yang tampil. Kean berhasil mencetak satu-satunya gol bagi Italia dan menjadi pencetak gol terbanyak tim selama babak kualifikasi, meskipun ia absen dalam setengah dari pertandingan karena cedera. Salah satu pertandingan yang tidak diikutinya adalah melawan Norwegia, yang mempermalukan Italia dengan skor 4-1. Dalam laga tersebut, dua pemain keturunan Afrika mewakili Norwegia, sementara Italia, yang berpenduduk sepuluh kali lipat, tidak menurunkan pemain non-putih sama sekali.
Optimisme yang Hancur
Riccardo Bia, yang menjalankan agen olahraga bersama ayahnya dan mewakili lebih dari seratus pemain sepak bola Italia, termasuk pemain tim nasional, awalnya berpikiran positif tentang peluang Italia lolos ke Piala Dunia. “Sungguh ilusi besar,” ungkapnya baru-baru ini. Ia mengingat pertandingan Serie A tahun lalu antara A.C. Milan dan Bologna, di mana hanya tiga dari dua puluh dua pemain yang tampil adalah warga negara Italia. “Terlalu banyak pemain asing di Serie A,” ujarnya. “Satu-satunya cara untuk menyelamatkan tim nasional adalah dengan mewajibkan klub untuk memainkan pemain muda Italia.” Bia khawatir generasi muda akan kehilangan minat terhadap sepak bola karena mereka mungkin tidak mengenal pemain di tim jagoan mereka.
Masalah di Lapangan dan Dampaknya
Pandangan bahwa kurangnya pemain Italia di klub-klub top merugikan kompetisi tim nasional kini menjadi wacana umum di Italia. Peradotto, kepala badan pemerintah yang menyelidiki masalah rasisme, menegaskan bahwa “ketidakadaan pemain Italia” di klub-klub elit telah mengakibatkan tim nasional yang kurang kompetitif.
Pernyataan ini bukanlah hal baru. Sejak tahun-tahun awal dominasi sepak bola Italia, banyak yang berpendapat bahwa pemerintah Mussolini, yang berkuasa sejak 1922, menciptakan sistem sepak bola nasional sebagai alat pembentuk identitas. Ketika itu, tim nasional tergolong medioker, gagal meraih medali di Olimpiade 1920 dan 1924. Mussolini berusaha membangun stadion baru serta mendirikan liga baru, Serie A, yang melarang pemain asing. Dia juga berhasil membawa Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia kedua pada tahun 1934, di mana Italia keluar sebagai juara dan melanjutkan kesuksesan mereka dengan memenangkan Piala Dunia kedua pada tahun 1938.
Perubahan dan Akibatnya
Setelah Perang Dunia Kedua, Serie A dibuka untuk pemain asing. Namun, setelah beberapa performa mengecewakan tim nasional, seperti tidak lolos ke Piala Dunia 1958 dan kalah mengejutkan dari Uni Soviet dan Korea Utara di edisi 1966, aturan larangan pemain asing kembali diterapkan. Pada Piala Dunia 1970, Italia mencapai final, dan di tahun 1982, meraih Piala Dunia ketiga. Di dekade yang sama, Serie A melonggarkan larangan terhadap pemain asing dengan menetapkan kuota yang memungkinkan tiga pemain asing per klub pada tahun 1988. Tujuh tahun kemudian, sebuah keputusan pengadilan menghapuskan batasan tersebut bagi pemain dari negara-negara Uni Eropa, yang membawa masuk gelombang bakat internasional yang terus berlanjut. “Sekarang ada terlalu banyak pemain asing,” ujar Daniele De Rossi, “karena saat ini, pemain asing yang bermain di Italia lebih baik dari pemain Italia.”
Konteks dan Masa Depan
Situasi ini menjadi tantangan serius bagi tim nasional ke depan. Jika langkah-langkah tidak diambil untuk meningkatkan keterlibatan pemain muda dalam liga, cita-cita Italia untuk kembali bersaing di level dunia akan semakin sulit dicapai. Perubahan ini bukan hanya berdampak pada kualitas sepak bola di klub, tetapi juga masa depan tim nasional yang harus menemukan cara untuk menarik dan mempertahankan bakat lokal.
(SA/GN)
sumber : www.newyorker.com
Leave a comment