Analisis Taktik Real Madrid di Bawah Xabi Alonso: Tekanan, Posisi Pemain, dan Gaya Vinicius
Masa jeda internasional kerap menjadi momen ideal untuk menengok lebih dalam aspek taktik tim. Di Real Madrid, kepemimpinan Xabi Alonso telah membawa perubahan signifikan, memicu perdebatan tentang bagaimana tim beradaptasi. Analisis kali ini akan mengulas empat area krusial: intensitas pressing tim, performa bek muda Dean Huijsen, adaptasi Fede Valverde di sisi kanan, serta dinamika antara gaya bermain Vinicius Jr. dan filosofi “Xabi-ball”.
1. Performa “Pressing” Real Madrid di Bawah Xabi Alonso
Hanya dalam beberapa bulan, filosofi Xabi Alonso telah mengubah Real Madrid menjadi tim yang lebih proaktif. Ia menginginkan timnya mendikte permainan, menekan lawan, dan membuat mereka mati kutu di bawah tekanan. Data menunjukkan peningkatkan signifikan: Real Madrid kini mencatat 8,9 operan per aksi defensif (PPDA) di La Liga musim ini, jauh lebih agresif dibandingkan 11,11 musim lalu.
Lompatan ini penting, terutama bagi tim yang DNA-nya tidak terlalu condong ke pressing tinggi. Alonso, berbeda dengan pelatih seperti Hansi Flick, tidak hanya terpaku pada “Plan A.” Ia juga nyaman meminta timnya untuk bertahan dengan “mid-to-low-block”, sebuah adaptabilitas yang krusial untuk memenangkan kompetisi besar seperti Champions Leagues.
Namun, fleksibilitas ini kadang menjadi bumerang. Alonso menghadapi kritik karena dianggap terlalu konservatif dalam laga-laga besar. Contohnya, saat melawan Liverpool, ia mengorbankan serangan akhir demi penguasaan bola yang lebih aman. Puncak keberhasilan pressing Real Madrid terlihat jelas saat El Clasico pada 26 Oktober, di mana babak pertama menampilkan pressing terbaik mereka dalam beberapa tahun terakhir. Seluruh tim bergerak serentak untuk merebut bola kembali, menciptakan versi Real Madrid yang “lapar” dan bersatu.
Meskipun demikian, konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah. Tim gagal menyamai intensitas lawan seperti Atletico Madrid dan Liverpool (tandang). Pertanyaan besarnya, apakah ini akan membaik? Apakah kekalahan tersebut menjadi pelajaran berharga? Level dasar tim memang lebih tinggi dari musim lalu, namun potensi puncaknya masih belum pasti.
2. Dean Huijsen: Antara Potensi dan Kecerobohan
Ekspektasi terhadap Dean Huijsen mungkin terlalu tinggi di awal musim. Setelah musim yang luar biasa sebagai bek tengah “ball-playing” di Bournemouth dan penampilan gemilang di Club World Cup di bawah Alonso (di mana ia tampil layaknya Toni Kroos versi bek tengah), sorotan tertuju padanya.
Saat ini, Huijsen mencatat 84,4% akurasi operan, menempatkannya di persentil ke-23 di antara para bek tengah. Angka ini, meskipun tidak selalu definitif, bisa menjadi indikator seberapa besar risiko yang diambil. Sebagai perbandingan, Raul Asencio berada di 95,2%.
Huijsen dikenal sebagai pemain vertikal yang berani. Ia sering mengambil risiko dengan operan ke “final third” (menduduki peringkat kelima di La Liga dalam metrik ini), dan meskipun beberapa berhasil, ada pula yang merugikan tim. Operannya kerap menjadi titik lemah di Anfield dan Metropolitano melawan Liverpool dan Atletico Madrid. Bahkan di pertandingan “kecil,” kesalahan passingnya bisa berujung fatal.
Operan-operan yang tampak “polos” ini bisa sangat berbahaya di level elite. Kita tidak ingin melihat tim sekelas Manchester City memanfaatkan kesalahan transisi seperti yang terjadi saat melawan Valencia. Huijsen tetap salah satu bek tengah paling menjanjikan di dunia, namun ia perlu belajar kapan harus membuat operan mematikan dan kapan harus bermain aman. Ia harus lebih sigap menghadapi tim berintensitas tinggi yang tahu cara mengeksploitasi tekanannya. Mungkin tidak terlalu keras jika ia sesekali duduk di bangku cadangan, mengingat Eder Militao dan Raul Asencio saat ini sedang dalam performa terbaik.
3. Fede Valverde di Sisi Kanan: Dari Bek hingga Potensi Winger
Awal musim ini, Fede Valverde sempat kesulitan secara individu. Dalam skema Alonso, ia ditempatkan lebih dalam, di belakang garis “counter-pressing” awal, dan ditugaskan untuk membantu Aurelien Tchouameni mengganggu serangan transisi lawan. Namun, efisiensi pressing Alonso di awal musim membuat Valverde jarang terlibat, dan kurangnya aksi ini tampaknya memengaruhi ritme permainannya.
Cedera yang menimpa Dani Carvajal dan Trent Alexander-Arnold secara tidak langsung justru mengubah nasib Valverde. Pemain Uruguay itu terpaksa bermain sebagai “right-back”, dan terlepas dari kesukaannya di posisi itu, ia tampil luar biasa. Valverde memiliki kemampuan untuk menciptakan “overloads” tinggi di lapangan, namun juga memiliki stamina dan semangat untuk berlari kembali dalam transisi saat dibutuhkan. Ia adalah bek 1v1 yang handal dan mampu berpikir cepat untuk lolos dari tekanan dan membawa tim maju.
Kini, Carvajal dan Trent telah kembali. Real Madrid masih mencari sosok sayap kanan sejati. Alonso patut mempertimbangkan Valverde di peran yang mirip dengan Franco Mastantuono, memanfaatkan kemampuannya di sisi kanan secara ofensif.
4. Harmonisasi Vinicius Jr. dan Filosofi “Xabi-ball”
Vinicius Jr. adalah pemain yang memukau, seorang ahli dalam mempermalukan bek lawan. Ketika ia berada dalam elemennya, ia memberi momentum ofensif bagi tim. Namun, ketika serangannya macet atau ia kalah dalam duel “wing-back”, hal ini bisa berdampak negatif. Rekan setim terlihat “menganggur” menunggu bola, atau operan mereka tidak diindahkan. Vinicius juga bisa kehilangan bola di area berbahaya.
Secara umum, Vinicius bukanlah beban bagi tim. Ia adalah “supernova” ofensif di puncaknya, sehingga tim rela menanggung beberapa kehilangan bola. Ia juga bekerja keras dalam bertahan musim ini, sebuah karakteristik yang sangat penting. Namun, selalu ada ruang untuk perbaikan.
Banyak dari pasang surut performa Vinicius musim ini diperbesar oleh dinamika hubungannya dengan Xabi Alonso. Alonso menginginkan struktur ofensif, pergerakan bola yang lebih cepat, dan kombinasi kilat. Vinicius adalah pemain kelas Ballon D’or, tetapi kadang ia ingin menghadapi pemain yang sama berulang kali, padahal satu kali sudah cukup.
Vinicius memiliki kemampuan untuk mengirimkan umpan silang mematikan ke kotak penalti; operan “outside-of-the-boot” miliknya hanya kalah dari Luka Modric. Alonso ingin memaksimalkan potensi Vinicius yang seperti ini, sementara Vinicius menginginkan kebebasan ofensif total. Titik tengah perlu ditemukan, dan ini harus sejalan dengan kebaikan seluruh tim. Rekan setim perlu sepaham dengan Vinicius, dan Alonso harus memiliki kontrol atas skema untuk menerapkan apa yang diharapkan Real Madrid darinya.
Gaya “iso-ball” Vinicius bisa menjadi masalah jika ia tidak memenangkan duel “wing-back” tetapi tetap ngotot dengan pendekatan yang sama. Ini terjadi saat melawan Liverpool, di mana 20 kehilangan bola di Anfield sangat merugikan tim. Namun, ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Perlu ada pergerakan yang lebih kohesif dan “verticality” dari seluruh tim. Alonso memilih pendekatan penguasaan bola konservatif melawan Liverpool, meninggalkan apa yang berhasil di Bernabeu melawan Barcelona. Real Madrid masih belum memiliki cukup pemain di kotak penalti secara teratur untuk memanfaatkan peluang yang diciptakan. Dalam laga selanjutnya di Vallecas, Mbappe melakukan beberapa lari “off-ball” yang cerdik namun tidak menerima bola.
Liverpool dan Rayo Vallecano, baru-baru ini, merasa mudah menghentikan serangan Real Madrid yang “predikabel”: awasi bola ke Vinicius di sayap, kirim bantuan pertahanan, rebut bola. Masalah ini diperparah jika pemain di sekitarnya tidak melakukan “off-ball runs” yang tepat untuk menarik perhatian bek lawan. Beberapa dribel Vinicius secara teknis brilian, namun pertanyaan muncul: bagaimana ini menguntungkan tim? Kadang ya, kadang tidak. Di mana Alonso melihat potensi untuk memuluskan hambatan, Vinicius melihat batasan pada kebebasan ofensifnya.
Interaksi antara kejeniusan individu dan tuntutan taktik kolektif akan terus menjadi kunci bagi Real Madrid di bawah Xabi Alonso. Bagaimana tim berhasil menyeimbangkan hal ini akan menentukan arah musim mereka.
(SA/GN)
sumber : www.managingmadrid.com
Leave a comment