Kisah José Mourinho di Real Madrid: Sukses yang Terluka oleh Kontroversi
Melihat kembali statistik 13 tahun yang lalu, masa kepelatihan José Mourinho di Real Madrid dapat dianggap sukses. Ia berhasil meraih dua gelar besar dalam waktu tiga tahun, termasuk memenangkan gelar La Liga dengan 100 poin, mengalahkan Barcelona asuhan Pep Guardiola. Selain itu, Mourinho memiliki catatan kemenangan lebih dari 70% selama masa jabatannya.
“Saya adalah salah satu dari sedikit pelatih yang meninggalkan Real Madrid tanpa dipecat,” ungkap Mourinho saat menjelang pertemuannya dengan tim lamanya di Liga Champions musim ini. Secara resmi, ia meninggalkan klub melalui kesepakatan bersama.
Bagi klub dengan banyak kenangan seperti Real Madrid, ide untuk mengangkat kembali “The Special One” semakin populer seiring dengan musim perubahan yang akan datang. Namun, statistik saja tidak menggambarkan seluruh kisah Mourinho di Madrid.
Apa yang Salah bagi Mourinho di Real Madrid?
Akhir bagi Mourinho di Madrid ditandai pada 30 April 2013, saat timnya tersingkir dari Liga Champions di semifinal untuk ketiga kalinya berturut-turut. Kemenangan 2-0 melawan Borussia Dortmund di leg kedua tidak cukup untuk membalikkan kekalahan yang diderita seminggu sebelumnya di Jerman, di mana Robert Lewandowski mencetak empat gol.
Dalam tiga tahun kepemimpinannya, Mourinho menghadapi banyak kontroversi yang berujung pada pengakhiran yang mengerikan. Dalam konteks mengenang masa-masa itu, catatan positif pun dirusak oleh banyak konflik internal. Beberapa insiden seperti pertikaian dengan pemain bintang dan perilaku yang tidak selalu mencerminkan nilai-nilai Madrid menjadi sorotan.
Tanda-Tanda Awal Kejatuhan
Mourinho memulai karirnya di Madrid dengan baik, meraih gelar Copa del Rey di tahun pertamanya dan memenangkan La Liga dengan rekor 100 poin di tahun kedua, sebuah pencapaian yang masih tetap sebagai yang terbaik di klub dari segi poin dan gol. Namun, meskipun mendapatkan kesuksesan, terdapat banyak tanda-tanda peringatan yang terlihat.
Rivalitas El Clásico dengan Barcelona mencapai level kebencian yang baru, dan beberapa penggemar merasa terganggu dengan pendekatan Mourihno yang brutal. Manajer legendaris Madrid, Emilio Butragueño, mempertahankan Mourinho, menekankan bahwa tujuan utama mereka adalah meraih trofi, bukan untuk berteman. Namun, insiden-insiden seperti saat Mourinho menjahili asisten pelatih Barcelona, Tito Vilanova, menunjukkan betapa tertekan situasi tersebut.
Konflik dengan Pemain Utama
Waktu Mourinho di Madrid juga ditandai dengan banyak pertikaian dengan bintang-bintang tim. Sering kali, ia berseteru dengan Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema, menciptakan suasana yang kurang nyaman di ruang ganti.
“Jika kamu berburu dengan anjing, kamu menang lebih banyak daripada jika berburu dengan kucing,” kutip Mourinho saat menyerang Benzema. Sementara itu, konflik dengan Ronaldo mencapai puncak ketika sang bintang terlihat berteriak “f— you” dalam Bahasa Portugis setelah mencetak gol ke-200 di klub.
Namun, konflik terbesar mungkin terjadi antara Mourinho dan kiper legendaris Iker Casillas. Casillas, salah satu pilar Madrid, dicadangkan oleh Mourinho dan digantikan oleh Diego López, yang menimbulkan spekulasi bahwa permasalahan mereka lebih dalam dari sekadar penampilan di lapangan.
Hari-Hari Terakhir Mourinho di Madrid
Selama musim 2012-2013, meskipun Madrid bertindak sebagai juara bertahan, mereka tidak dapat bersaing dengan Barcelona. Ketidakpuasan terhadap gaya kepelatihan Mourinho semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Meskipun Madrid mengakhiri musim dengan rekor 16 laga tanpa kekalahan di La Liga, kondisi tim sudah tidak baik secara moral dan tersebar banyak konflik.
Musim berakhir buruk ketika Mourinho dan Ronaldo diusir dari lapangan dalam laga final Copa del Rey melawan Atlético Madrid, yang berakhir dengan kekalahan 2-1. Pada saat itu, fans Atlético malah bersorak “Mourinho stay” sebagai sindiran mewakili kekecewaan atas musim buruk tersebut.
Mourinho menggambarkan musim itu sebagai “musim terburuk dalam hidupnya.” Dua hari setelah kekalahan, presiden klub, Florentino Pérez, mengumumkan bahwa hubungan mereka berakhir. Mourinho pun kembali ke Chelsea, di mana ia memenangkan gelar Premier League pada 2014-15. Namun, itu merupakan satu-satunya kesuksesan liga yang diraihnya dalam 13 tahun setelah meninggalkan Madrid, sementara kisah rift dan kontroversi terus berlanjut.
(SA/GN)
sumber : www.si.com
Leave a comment