Perjalanan Julen Lopetegui Menjelang Piala Dunia
Kesempatan Perdana di Piala Dunia
Julen Lopetegui seharusnya sudah merasakan atmosfer Piala Dunia sebelumnya. Pada 2018, ia dipecat dari jabatan pelatih tim nasional Spanyol hanya dua hari sebelum pertandingan pembuka, setelah Real Madrid mengumumkan bahwa mereka akan menunjuknya sebagai pelatih musim depan.
Sekarang, delapan tahun kemudian, dia akan memimpin Qatar di turnamen ini. Qatar akan menghadapi Swiss pada laga perdana Grup B di Stadion San Francisco Bay Area pada hari Sabtu.
Fokus ke Masa Depan
Lopetegui mengatakan, “Saya tidak memikirkan tentang 2018, saya lebih fokus pada 2026. Banyak hal telah terjadi dalam hidup saya sejak saat itu, termasuk hal-hal positif dalam dunia sepak bola. Saya datang ke Qatar untuk membantu mereka lolos ke Piala Dunia, sebuah pencapaian bersejarah. Ini merupakan tantangan yang sangat berat, tetapi hal itu memotivasi kami.”
“Tujuan selanjutnya adalah menjadi tim yang sekompetitif mungkin.”
Sejarah dan Tantangan di Qatar
Lopetegui menjadi pelatih Spanyol pada 2016, menggantikan Vicente del Bosque setelah kekalahan di babak 16 besar Euro 2016 oleh Italia. Ia berhasil mengubah tim yang sudah uzur menjadi salah satu favorit sebelum Piala Dunia 2018. Namun, ia terpaksa melihat timnya tersingkir di babak 16 besar di bawah pelatih sementara Fernando Hierro setelah kalah dari Rusia dalam adu penalti.
Saat ini, Lopetegui berusaha membangkitkan Qatar, yang belum mampu meraih kemenangan di Piala Dunia sebelumnya dan kehilangan semua laga grup saat menjadi tuan rumah pada 2022. Dengan dibawa ke Qatar pada Mei 2025, ia menghadapi tantangan berat setelah tim menderita kekalahan beruntun dalam kualifikasi Asia.
Kualifikasi Piala Dunia
Pertandingan pertamanya membawa Qatar meraih kemenangan 1-0 melawan Iran, yang kemudian menjadi kunci lolos ke babak play-off. Setelah hasil imbang 0-0 melawan Oman, Qatar berhasil mengalahkan UEA 2-1 dan memastikan tempat mereka di Piala Dunia musim panas ini.
Lopetegui mengingat, “Kami melakukan hal luar biasa melawan Iran, yang merupakan tim kuat di kawasan ini. Pertandingan melawan UEA adalah yang paling menyakitkan, tetapi kami berhasil meski dalam situasi sulit.”
Generasi Pemain dan Tantangan Masa Depan
Lopetegui mengakui bahwa generasi pemain saat ini tengah memasuki fase veteran, dan dia berusaha memperkenalkan pemain-pemain muda ke tim nasional. Meski begitu, potensi pemain di Qatar cukup terbatas, dengan sebagian besar populasi merupakan pekerja migran.
“Di kualifikasi bulan Oktober, ada pemain yang baru bermain tiga laga di liga top. Kami berusaha sebaik mungkin dengan sumber daya yang ada.”
Persiapan Menuju Turnamen
Persiapan Lopetegui terganggu pada Maret lalu saat pertandingan persahabatan melawan Serbia dan Argentina dibatalkan. Meski begitu, Qatar tetap menjalani dua laga persiapan Piala Dunia, dengan hasil kekalahan tipis 0-1 dari Irlandia dan imbang 0-0 melawan El Salvador.
Lopetegui menyadari bahwa timnya dianggap sebagai underdog dalam setiap laga Grup B. Setelah bertanding melawan Swiss, Qatar akan melawan tim tuan rumah Kanada pada 19 Juni (WIB) dan Bosnia dan Herzegovina pada 24 Juni (WIB).
Pengalaman di Klub dan Masa Depan
Sebelum bergabung dengan Qatar, Lopetegui sempat melatih Real Madrid, Sevilla, dan Wolves. Dalam kontraknya yang berlaku hingga 2027, dia tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke sepak bola klub di Eropa.
“Saya seorang pelatih dan menyukai tantangan besar. Saya berharap untuk mendapatkan kesempatan yang baik di masa depan, baik di Inggris, Spanyol, atau tempat lain.”
(SA/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment