Persaingan La Liga Menyusut: Peluang Guard of Honor untuk Barcelona
La Liga kini memasuki fase akhir dengan lima pertandingan tersisa. Barcelona memimpin klasemen, unggul 11 poin dari Real Madrid, menjadikan peluang mereka untuk meraih gelar juara semakin besar. Hal ini mencuatkan kemungkinan adanya guard of honor, mengingat pertemuan El Clásico semakin dekat. Presiden La Liga, Javier Tebas, memberikan tanggapan terkait tradisi tersebut dalam sebuah acara publik.
Tebas menyatakan, “Aturan tidak menetapkan apa pun tentang guard of honor; ini adalah tradisi dan tergantung pada klub. Tidak ada aturan yang mendefinisikannya. Tradisi mengatakan seharusnya dilakukan untuk juara, tetapi itu harus diputuskan oleh para pemain dan klub, Real Madrid. Namun sampai saat ini, belum ada juara yang ditetapkan. Menyebutnya terlalu cepat.”
Pertemuan Raksasa pada 10 Mei
Pertemuan antara kedua tim besar ini dijadwalkan berlangsung pada 10 Mei. Gelar juara La Liga bisa ditentukan akhir pekan ini jika Barcelona mengalahkan Osasuna, sementara Real Madrid gagal meraih kemenangan melawan Espanyol. Jika itu tidak terjadi, penentuan juara mungkin tertunda hingga pertemuan di Barcelona.
Tebas Menanggapi Kritikan Real Madrid
Pada acara Red de Ciudades de La Liga yang digelar di markas Federación de Municipios y Provincias, Tebas juga merespon kritik dari presiden Real Madrid, Florentino Pérez.
Ketidakcocokan pandangan antara keduanya telah berjalan cukup lama. Pérez sering kali menganggap klubnya sebagai korban dalam beberapa situasi, sementara presiden liga memberikan tanggapan yang lugas.
Tebas menegaskan, “Saya tidak terkejut dengan Real Madrid. Mereka tidak menyukai tindakan yang melibatkan koordinasi dari semua klub sebagai satu kesatuan. Itu bukan cara mereka memandang sepak bola profesional. Real Madrid tidak berbagi pandangan tersebut. Saya sering mendengar presiden mereka mengatakan bahwa La Liga adalah Real Madrid dengan 19 tim lainnya.”
Fokus pada Perang Melawan Rasisme
Presiden La Liga tersebut menambahkan bahwa tujuan dari pertemuan ini adalah untuk memerangi rasisme, mengingat banyaknya insiden yang terjadi, termasuk yang melibatkan fans dan pemain dari tim nasional.
Tebas menambahkan, “Tujuannya adalah untuk mencegah jenis nyanyian dan perilaku seperti itu yang ada di masyarakat dan dalam olahraga. Dengan adanya kolaborasi antara kota-kota yang memiliki sepak bola profesional, kami dapat menciptakan banyak strategi yang dapat membantu mengurangi hal ini.”
(SA/GN)
sumber : worldsoccertalk.com
Leave a comment