Paraguay Menenggelamkan Turki 1-0, Turki Tereliminasi dari Piala Dunia
Paraguay meraih kemenangan 1-0 atas Turki pada Jumat lalu berkat gol cepat dari Matías Galarza. Hasil ini membuat Turki tersingkir dari Piala Dunia.
Miguel Almirón menjadi pemain pertama yang diusir wasit karena menutupi mulutnya, sesuai dengan aturan baru FIFA yang diterapkan sebelum turnamen ini.
Kemenangan tersebut membuat USMNT secara resmi menempati posisi teratas Group D, dengan Paraguay berada di peringkat ketiga di bawah Australia dan Turki. Dengan hasil ini, Turki tidak bisa mengejar posisi dua tim di atasnya berdasarkan aturan head-to-head. Paraguay akan menghadapi Australia dalam pertandingan terakhir grup mereka, sementara Turki akan melawan USMNT.
Setelah Almirón diusir, Turki berusaha keras tetapi tidak mampu menyamakan kedudukan, yang seharusnya dapat melanjutkan harapan mereka hingga ronde terakhir grup.
Mengapa Miguel Almirón Diusir?
Di akhir babak pertama, terjadi sebuah tantangan antara İsmail Yüksek dari Turki dan striker Paraguay, Isidro Pitta. Pitta terlihat memegang kakinya dan terjadi keributan kecil di antara kedua tim sebelum wasit Iván Arcides Barton Cisneros memeriksa VAR untuk kemungkinan pelanggaran kartu merah.
Dalam tayangan ulang, wasit melihat Miguel Almirón menutupi mulutnya sambil mengucapkan sesuatu kepada pemain Turki. Dengan melihat bukti tersebut, wasit mengeluarkan kartu merah langsung kepada Almirón.
Aturan baru yang diperkenalkan FIFA untuk Piala Dunia kali ini menyatakan bahwa menutupi mulut saat pertikaian adalah pelanggaran yang berhak mendapatkan kartu merah.
Aturan ini, yang dikenal dengan sebutan “Vini law”, diperkenalkan setelah insiden antara Vinicius Jr dari Real Madrid dan Gianluca Prestianni dari Benfica yang diduga terkait rasisme selama pertandingan Liga Champions. Prestianni kemudian dijatuhi hukuman enam pertandingan setelah mengakui telah membuat komentar homofobik, walaupun ia membantah pernyataan rasis.
Almirón kini tercatat sebagai pemain pertama yang dikenakan hukuman ini, meskipun tidak ada indikasi bahwa ia mengucapkan kata-kata yang ofensif.
Kekecewaan Besar bagi Turki
Kekalahan ini meninggalkan kekecewaan yang mendalam bagi Turki. Banyak yang memperkirakan Turki sebagai salah satu tim yang menarik perhatian di Piala Dunia 2026, dengan analisis yang menyebutkan bahwa tim ini memiliki banyak pemain berbakat yang bermain di liga-liga Eropa, seperti Arda Guler, Hakan Calhanoglu, dan Kenan Yildiz. Setelah 24 tahun absen, harapan publik tinggi agar generasi ini dapat melanjutkan warisan tim yang meraih semifinal di Piala Dunia 2002.
Namun, setelah dua kekalahan beruntun dari Australia dan Paraguay, harapan itu pupus. Meski memiliki bakat yang jelas, Turki kesulitan menerjemahkan penguasaan bola dan teknik menjadi peluang berarti untuk mencetak gol. Kekalahan dari Australia menunjukkan kurangnya kecepatan dan kedalaman dalam transisi, sedangkan kekalahan dari Paraguay memperlihatkan masalah lain: ketidakpastian.
Setelah gol Galarza, Paraguay cenderung bertahan dan memaksa Turki untuk menyerang. Namun, upaya Turki kembali terhambat sama seperti saat melawan Australia. Guler dan Yildiz berusaha menciptakan peluang, tetapi serangan mereka kerap terhenti dan tidak menghasilkan gol.
Dalam sepak bola, menciptakan peluang tidaklah berarti jika tidak bisa menyelesaikannya. Pertanyaannya kini adalah seberapa siap pelatih Vincenzo Montella untuk melakukan adaptasi. Sistemnya yang lebih mengutamakan 4-2-3-1 tampaknya kurang berhasil menghadapi tantangan di lapangan.
Gol Cepat Galarza dan Perbandingannya
Matías Galarza mencetak gol tercepat Piala Dunia ini hanya dalam 64 detik pertandingan. Paraguay dengan cepat meraih peluang setelah Turki kehilangan bola di wilayah pertahanan mereka. Galarza yang dipinjam dari Atlanta United menunjukkan ketajamannya dengan tendangan kaki kirinya yang masuk ke sudut gawang, tanpa bisa dijangkau oleh kiper Turki, Uğurcan Çakır.
Paraguay berhasil mempertahankan keunggulan meskipun bermain dengan 10 orang di babak kedua. Galarza yang menjadi pahlawan harus ditandu keluar di tambahan waktu, dan Paraguay berharap ia bisa fit untuk pertandingan berikutnya melawan Australia.
Di hari yang sama, Ismael Saibari juga mencetak gol untuk Maroko ke gawang Skotlandia dalam waktu 71 detik. Meskipun soalnya Galarza lebih cepat tujuh detik, keduanya masih jauh dari rekor dunia. Rekor gol tercepat tanpa menit adalah milik Hakan Şükür dari Turki pada Piala Dunia 2002, yang mencetak gol dalam 11 detik.
Masih ada kesempatan untuk melihat lebih banyak gol cepat di turnamen ini.
Dampak bagi USMNT
Kemenangan Paraguay yang tak terduga melawan Turki berdampak positif bagi USMNT, yang secara otomatis menempati urutan pertama di Group D. Dengan status ini, mereka diperkirakan akan menghadapi tim dari peringkat ketiga grup lain yang lebih lemah di babak 32 besar.
Pertandingan berikutnya bagi USMNT adalah pada 1 Juli mendatang di Levi’s Stadium di San Francisco. Mereka kemungkinan akan menghadapi Bosnia dan Herzegovina atau Qatar sebagai lawan di babak tersebut
Dengan kepastian posisi ini, tim dapat memberikan rotasi pada pemain dan melakukan eksperimen, yang sangat dibutuhkan di turnamen dengan format baru ini.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Pertandingan terakhir di Group D akan berlangsung pada 25 Juni, dimulai pukul 10.00 WIB.
- Turki vs USMNT, di Los Angeles
- Paraguay vs Australia, di San Francisco
USMNT yang sudah memastikan diri sebagai juara grup akan melawan tim dari peringkat ketiga grup B, E, F, I, atau J di San Francisco pada 1 Juli. Sedangkan tim yang menjadi runner-up grup akan bertemu dengan tim posisi kedua Grup G di Dallas pada 3 Juli.
Jika ada tim yang lolos sebagai peringkat ketiga, akan berhadapan dengan pemenang grup E, I, atau K di Boston, Kansas City, atau New York.
(LC/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment