Phetjeeja Kembali ke Rumah Lama, Siap Raih Gelar Kedua ONE Championship
Sang Juara Dunia Kickboxing Atomweight Wanita ONE, “The Queen” Phetjeeja, telah kembali ke Team Mehdi Zatout, tempat di mana perjalanannya menuju kejayaan dimulai. Kini, ia bersiap untuk kembali ke akar bela dirinya.
Pada Jumat, 5 Desember, Phetjeeja akan bertarung dalam laga Muay Thai atomweight melawan Martyna Dominczak di ONE Fight Night 38: Andrade vs. Baatarkhuu. Acara ini akan disiarkan langsung pada jam primetime AS dari Lumpinee Stadium di Bangkok, Thailand, yang berarti penggemar di Indonesia bisa menyaksikannya pada Sabtu, 6 Desember pagi hari WIB melalui Prime Video.
Kemenangan dalam laga ini akan memposisikan Phetjeeja sebagai penantang berikutnya untuk Juara Dunia Muay Thai Atomweight Wanita ONE, Allycia Hellen Rodrigues, membawanya selangkah lebih dekat menuju supremasi dua divisi.
Sebelum pertarungan ini, atlet berusia 23 tahun tersebut harus mempertahankan takhta kickboxing-nya melawan Kana “Krusher Queen” Morimoto di ONE 172 pada Maret lalu di Tokyo. Phetjeeja menampilkan performa klinis dengan kemenangan mutlak – kemenangannya yang ke-209 dalam karier – sekaligus membungkam kerumunan penonton Jepang yang bersemangat.
“Rasanya luar biasa. Ada kelegaan besar karena melawan lawan dari Jepang selalu sulit bagi saya. Gaya bertarung mereka membuat saya sulit bertarung; mereka cepat. Ditambah lagi, Anda tidak tahu rencana permainan seperti apa yang akan mereka bawa. Jadi saya sangat senang bisa mempertahankan sabuk saya.”
Reuni Tak Terduga dengan Sang Pelatih
Perjalanan ke Tokyo itu memberikan Phetjeeja sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mempertahankan gelar juara dunia. Itu adalah kesempatan untuk kembali terhubung dengan mantan pelatihnya, Mehdi Zatout.
Kesalahpahaman di luar ring telah menjauhkan keduanya, memaksanya meninggalkan camp yang berbasis di Pattaya tersebut pada awal 2024. Phetjeeja sempat pindah ke Sor Dechapan Gym, tetapi hatinya tidak pernah meninggalkan Team Mehdi Zatout.
Saat mereka bersatu kembali di Jepang, luka lama mulai sembuh.
Superstar Thailand itu berbagi cerita:
“Ketika saya bertarung di Jepang, saat itulah saya akhirnya bisa berbicara dengan Mehdi. Sebelumnya, kami sama sekali tidak berbicara, yang meninggalkan beberapa masalah yang belum selesai dan kesalahpahaman. Ketika saya melihatnya, itu membuat saya rindu saat kami saling menjaga.
Ketika saya melakukan pemanasan, Mehdi masih datang dan melatih saya, sama seperti sebelumnya. Dia masih peduli dan memberi saya nasihat.”
Momen itu membuktikan apa yang selalu Phetjeeja ketahui. Mantan pelatihnya selalu memprioritaskan kepentingannya, bahkan setelah perselisihan mereka.
Dia kembali bergabung dengan Team Mehdi Zatout pada Oktober, yang datang pada waktu yang sangat tepat saat ia mengejar gelar Juara Dunia ONE yang kedua.
Phetjeeja menjelaskan:
“Sistem pelatihan di [Team Mehdi Zatout] adalah apa yang saya biasa dan paling sering saya latih. Jadi saya memutuskan untuk kembali ke sini dan berlatih sepenuhnya.
Jujur, saya merindukan tempat ini. Di sinilah saya memulai, di mana kami berjuang bersama, di mana kami berjuang keras bersama, dan di mana saya menjadi juara. Saya merasakan hal itu tentang tempat ini.”
Dominczak Menjadi Penghalang Menuju Kejayaan Dua Divisi
Phetjeeja adalah salah satu striker wanita terbaik pound-for-pound di dunia, telah mengalahkan legenda Anissa “C18” Meksen dan Janet “JT” Todd untuk merebut dan menyatukan sabuk emas kickboxing.
Namun, di balik semua pencapaian itu, masih ada kekosongan yang hanya bisa diisi oleh gelar Juara Dunia Muay Thai ONE.
Sang ratu kickboxing berkata:
“Impian saya adalah memenangkan Kejuaraan Dunia Muay Thai Atomweight Wanita ONE dan menjadi Juara Dunia ONE dua divisi. Saya yakin jika saya menampilkan performa yang baik dalam pertarungan ini dan meraih kemenangan yang mengesankan, saya mungkin akan mendapatkan kesempatan untuk menantang Allycia Hellen Rodrigues di pertarungan berikutnya.”
Meski fenomenal dalam kickboxing, Phetjeeja menunjukkan performa terbaiknya di Muay Thai, di mana ia bisa melancarkan pukulan siku yang menghancurkan dan kerja clinch yang mematikan.
Sebelum beralih ke kickboxing, ia mencatat rekor 4-0 di Muay Thai pada ONE Friday Fights, mengakhiri setiap lawan yang dihadapinya.
Sekarang, ia siap membuktikan bahwa kemampuannya tidak menurun sedikit pun saat menghadapi Martyna Dominczak yang berbahaya.
“The Queen” melanjutkan:
“Pertarungan ini sangat penting karena ini adalah pertarungan Muay Thai pertama saya dalam dua tahun. Banyak penggemar mungkin menunggu untuk melihat performa saya. Saya akan mencoba yang terbaik untuk mengalahkan Martyna dalam bentuk terbaik yang mungkin.”
Phetjeeja tahu bahwa Dominczak merupakan ancaman serius. Petarung Polandia ini membawa bahaya nyata, dan kedua petarung menginginkan hadiah yang sama – kesempatan untuk menantang Rodrigues.
Pada 5 Desember, dalam ajang primetime terakhir promotor tersebut untuk tahun ini, hanya satu yang akan meraihnya.
Dia menyimpulkan:
“Martyna adalah petarung yang sangat serba bisa. Dia bisa maju dan mundur. Kekuatannya adalah tendangan dorongnya yang sangat cepat ke wajah. Senjata lainnya juga sangat berbahaya karena dia melemparkannya dengan cukup kuat.
Pertarungan ini pasti akan sangat seru. Peluang untuk mengakhiri pertarungan (finishing) sangat tinggi, karena dia juga menginginkan kemenangan yang mengesankan untuk menantang Allycia, sama seperti saya. Saya pikir jika salah satu dari kami membuat kesalahan, itu bisa menjadi knockout.”
(OL/GN)
sumber : www.onefc.com
Leave a comment