Michael Jordan: Legenda yang Hampir Meninggalkan Chicago Bulls
Michael Jordan, salah satu pemain basket terhebat sepanjang masa, meninggalkan jejak yang tak tertandingi di NBA. Sebagai beberapa kali juara liga dan penerima MVP, pengaruh Jordan tidak hanya terbatas pada permainan basket, tetapi juga mengglobal melalui nama dan mereknya.
Salah satu momen ikonik dalam kariernya terjadi pada tahun 1990-an, saat ia memimpin Chicago Bulls meraih dua kali tiga gelar berturut-turut. Kesuksesan tersebut membuat namanya erat dikaitkan dengan franchise Bulls.
Hingga kini, penggemar bola basket masih sering mengenakan jersey Bulls milik Jordan. Meskipun ia sempat bermain dengan Washington Wizards sebelum pensiun, tidak ada keraguan bahwa pemain yang masuk Hall of Fame ini lebih dikenal berkat kontribusinya di tim Bulls.
Michael Jordan Hampir Meninggalkan Chicago Bulls di Tengah 1990-an
Pada tahun 1996 dan 1997, situasi di Chicago Bulls mulai tidak menentu. Ketika kekhawatiran mulai muncul tentang masa depan Jordan dan arahan tim di bawah Jerry Krause, pemain bintang ini ternyata hampir meninggalkan Chicago lebih awal dari yang diperkirakan banyak orang.
Jordan, yang dipilih oleh Chicago Bulls sebagai pilihan ketiga di NBA Draft 1984, dengan cepat menjadi bintang utama liga dan mengubah wajah franchise. Dalam sembilan musim pertamanya, ia meraih tiga trofi MVP dan membantu Bulls meraih gelar pertama. Setelah sempat berhenti untuk bermain baseball, Jordan kembali pada tahun 1995 dan kembali menghidupkan era keemasan Bulls, meskipun ketidakpastian tetap terasa di belakang layar.
|
Statistik Karier Michael Jordan |
|
|---|---|
|
Stat |
Angka |
|
Poin per game |
30.1 |
|
Assist per game |
5.3 |
|
Rebound per game |
6.2 |
|
Steal per game |
2.3 |
|
Block per game |
0.8 |
|
Penghargaan karier |
5x MVP, 6x Finals MVP, 14x All-Star, 10x All-NBA First Team, 1x All-NBA Second Team, 1x DPOY, 9x NBA All-Defensive First Team, 1x ROTY |
|
Gelar NBA |
6 |
Dalam sebuah wawancara pada Juli 2005, Jordan mengungkapkan bahwa pada saat ketidakpastian tentang masa depannya, rival di Konferensi Timur, New York Knicks, mencoba meyakinkannya untuk meninggalkan Bulls. Menanggapi spekulasi mengenai Knicks, Jordan berkata:
“Itu benar-benar rumor. Ada satu kesempatan di mana ada dialog. Harusnya itu terjadi pada tahun 1996 atau 1997 karena masalah kontrak saya di Chicago. Namun, tidak ada yang materialisasi.”
Jordan menambahkan bahwa situasi ini lebih dekat menjadi kenyataan daripada yang disadari banyak orang.
“Jika Chicago tidak memberikan tawaran yang signifikan, New York akan menjadi pilihan berikutnya. Kami sebenarnya sudah berkomunikasi dengan New York. Jika tidak ada telepon dari Chicago dalam 30 menit, kami sudah bersedia untuk pergi ke Knicks meskipun dengan uang yang lebih sedikit.”
Melihat kembali dokumenter The Last Dance, tampak jelas mengapa Jordan mungkin merasa frustrasi. Ia percaya bahwa manajemen organisasi tidak sepenuhnya menghargai nilai dirinya dan kontribusi dari rekan setim penting seperti Scottie Pippen, yang menciptakan ketegangan genuin antara pemain dan manajemen.
Bayangkan Kerjasama Michael Jordan dan Patrick Ewing
Menarik untuk dibayangkan bagaimana jika Jordan benar-benar meninggalkan Bulls dan bergabung dengan Knicks. Di tahun 1990-an, Knicks dipimpin oleh Hall of Famer Patrick Ewing di posisi depan, namun meski kemampuan Ewing luar biasa, New York tidak pernah berhasil melewati batas. Jika Jordan dan Ewing berkolaborasi, Knicks mungkin akan menjadi tim yang sangat sulit dihentikan.
Kombo Jordan dan Ewing di situasi pick-and-roll pasti akan membuat lawan ketar-ketir, dan sulit untuk membayangkan banyak tim bisa menahan mereka. Keduanya juga dikenal sebagai pemain bertahan yang dominan dan layak ditempatkan di antara pemain bertahan terbaik dalam sejarah basket.
Ewing, yang merupakan 11 kali All-Star, sudah memiliki pengalaman berkolaborasi dengan Jordan saat keduanya membela Amerika Serikat di Olimpiade 1992, yang kini dikenal sebagai ‘Dream Team’. Dengan karir yang mencakup 15 musim di Knicks, Ewing berhasil mengendalikan area cat dan diakui sebagai salah satu center terbaik dalam sejarah NBA.
Sementara Jordan mengumpulkan gelar dan penghargaan MVP dengan Chicago, menarik untuk membayangkan seberapa besar kesuksesan yang mungkin dicapai jika mereka bersatu di pertengahan tahun 1990-an.
|
Statistik Karier Patrick Ewing |
|
|---|---|
|
Stat |
Angka |
|
Poin per game |
21.0 |
|
Assist per game |
1.9 |
|
Rebound per game |
9.8 |
|
Steal per game |
1.0 |
|
Block per game |
2.5 |
|
Penghargaan karier |
11x All-Star, 1x All-NBA First Team, 6x All-NBA Second Team, 1x ROTY |
|
Gelar NBA |
0 |
Jika Jordan dan Ewing bersatu, bisa jadi kita akan melihat momen-momen bersejarah yang berbeda dalam NBA. Namun, sejarah mencatat semua pencapaian Jordan bersama Bulls yang tak terlupakan.
(BA/GN)
sumber : www.givemesport.com
Leave a comment