Revolusi Cetak 3D: Lebih dari Sekadar Membangun Objek, Membentuk Masa Depan Industri
Dalam dua dekade terakhir, memiliki printer di rumah adalah sebuah revolusi besar. Kemampuan untuk mencetak dokumen dari rumah dan mengubahnya menjadi kertas merupakan sebuah pencapaian yang disetarakan dengan munculnya mesin tik. Namun, jika itu adalah garis finish dari sebuah sprint singkat, dunia masih memiliki maraton panjang untuk dijalani. Secara paralel, selama beberapa dekade terakhir, telah muncul labirin kemungkinan untuk memanfaatkan teknologi yang baru mulai menunjukkan potensinya: cetak 3D.
Ketika sebuah mesin dihidupkan, dengan adanya model atau desain digital, berbagai material mulai beraksi. Bahan-bahan ini ditambahkan dengan sangat presisi, lapis demi lapis, untuk membangun sebuah objek dalam tiga dimensi. Demikianlah cara kerja pencetakan 3D.
Potensi Tak Terbatas di Berbagai Sektor
Dari sepatu, kacamata, hingga mainan, semua bisa dihasilkan dengan teknologi ini. Bahkan, prototipe industri, rumah, dan jembatan telah berhasil dibangun. Luasnya kemungkinan yang ada hanya dibatasi oleh kreativitas dan tentu saja, kemampuan mesin itu sendiri.
Di Kolombia, ada beberapa pengalaman menarik yang patut dicermati. Fabrilab, misalnya, memproduksi protesa tangan, lengan, atau kaki, serta produk untuk penyandang disabilitas visual. Sebagian dari produk-produk tersebut bahkan disumbangkan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dari sektor industri, Conconcreto telah mengembangkan printer beton 3D dengan teknologi Siemens untuk mempercepat waktu pembangunan rumah subsidi.
Polemik Senjata Cetak 3D di Amerika Serikat
Di sisi lain, perdebatan sengit tentang pembuatan, komersialisasi, dan penggunaan senjata api kembali memanas di Amerika Serikat. Ini terjadi setelah seorang hakim federal di Seattle memerintahkan pemblokiran sementara terhadap cetak biru yang memungkinkan pembuatan senjata api menggunakan printer 3D. Keputusan ini menghentikan kesepakatan yang sebelumnya diteken pada bulan Juni antara pemerintah AS dan organisasi Defense Distributed, yang berencana menjual cetak biru senjata secara daring. Senjata-senjata ini dapat dibuat dari plastik atau logam, dan diklaim memiliki fungsi yang sama dengan senjata konvensional.
Kontroversi tersebut semakin memuncak minggu ini ketika sebelas negara bagian di Amerika Serikat menggugat pemerintahan Donald Trump. Mereka berupaya untuk mencapai pemblokiran definitif terhadap desain senjata yang dapat dibuat melalui pencetakan 3D di internet. Situasi ini menggambarkan betapa canggihnya teknologi ini dan seberapa besar kontribusinya bagi beragam sektor.
Inovasi Lokal dalam Cetak 3D
Di Kolombia, banyak perusahaan dan pengusaha yang menyadari potensi ini dan mengambil langkah-langkah pertumbuhan dengan memanfaatkan pencetakan 3D. Teknologi ini menjadi dasar bagi perusahaan Undos3D, yang berlokasi di utara Cali. Sejak tahun 2013, mereka menawarkan desain dan pencetakan 3D kepada perusahaan maupun individu, khususnya bekerja sama dengan dokter dan rumah sakit untuk pembuatan biomodel guna perencanaan bedah.
Manajer Undos3D menyatakan, “Kami memberikan alternatif kepada pelanggan untuk mendapatkan model 3D yang ingin mereka cetak, apakah kami mendesainnya, mereka memiliki desain sendiri, atau ditemukan siap pakai secara gratis di internet untuk dikomersialkan.” Menurutnya, peluang utama berada di sektor medis karena semakin banyak dokter dan ahli bedah yang mengimplementasikan teknologi ini untuk perencanaan bedah. “Ini juga sangat berguna bagi perusahaan yang ingin melihat prototipe kemasan produk baru mereka atau bagi pengusaha yang ingin mengeluarkan versi pertama dari produk mereka,” tambahnya.
Sementara itu, Lissy Rodríguez, direktur protolab3d.co yang berlokasi di Bogotá, mengungkapkan bahwa minat untuk menggunakan teknologi ini semakin meningkat. Di perusahaannya, pesanan dilakukan melalui formulir daring. Jika pelanggan tidak memiliki desain 3D, mereka dapat meminta penawaran untuk pemodelan dan perkiraan biaya layanan. Perkiraan harga ditentukan setelah simulasi perangkat lunak pencetakan yang memberikan perkiraan waktu dan jumlah gram material yang dibutuhkan.
“Kami menggunakan beberapa jenis polimer (plastik), disesuaikan dengan tujuan penggunaan benda tersebut, materialnya dipilih. Kami memiliki filamen (bahan baku) PLA yang berbahan dasar jagung dan kentang. Selain itu, kami juga memiliki yang mengandung partikel kayu, aluminium, perunggu, dan lainnya. Apa pun yang diinginkan orang dapat dibuat, yang terpenting adalah melihat tujuan pembuatan benda tersebut dan memilih material yang sesuai,” jelas Rodríguez. Pesanan yang paling sering mereka terima adalah prototipe seperti celengan, gelas, wadah, dan alas kaki. Selain menyediakan layanan pencetakan 3D, protolab3d.co juga memproduksi printer mereka sendiri, yang bahkan telah membawa mereka ke pameran di Amerika Serikat dan kini telah diekspor.
Menuju Masa Depan yang Tercetak
Jelas, pencetakan 3D baru saja berada di ambang pintu untuk menciptakan revolusi nyata, tidak hanya di rumah dan industri, tetapi juga dalam kebijakan publik. Teknologi ini berpotensi mengubah cara kita memproduksi, berinovasi, dan bahkan mengatasi tantangan sosial di masa depan.
(OL/GN)
sumber : www.semana.com
Leave a comment