Ramla Ali: Kisah Petinju Somalia yang Menemukan Akar di Kamp Pengungsian Dadaab
Petinju Inggris-Somalia, aktivis sosial, sekaligus model, Ramla Ali, kini semakin menghargai pentingnya air bersih dan segar. Pengalaman itu ia dapatkan setelah seminggu penuh menghabiskan waktu di kamp pengungsian Dadaab sebagai duta khusus UNICEF.
Kamp di timur laut Kenya itu menampung ratusan ribu pengungsi, sebagian besar dari Somalia, menjadikannya salah satu yang terbesar dan tertua di Afrika. Kamp ini didirikan setelah Somalia dilanda perang saudara pada tahun 1991. Bagi Ali, yang telah mengunjungi banyak kamp serupa di masa lalu, Dadaab memiliki makna khusus.
“Ini bisa saja adalah saya,” ujarnya, menatap foto-foto gadis kecil berkerudung pink di sebuah sekolah yang ia kunjungi di kamp.
Jejak Masa Lalu di Dadaab
Ali lahir di Mogadishu, namun keluarganya terpaksa meninggalkan tanah air setelah saudara laki-lakinya tewas karena granat. Ibunya mengenang masa-masa saat mereka menjadi pengungsi di Kenya, harus mengantre untuk mendapatkan bantuan makanan. Ali masih balita ketika keluarganya diberikan suaka di Inggris.
Kesempatan itu memberinya peluang yang tidak dimiliki anak-anak yang terjebak di dataran tandus Dadaab. Dimulai dari pendidikan di sekolah yang tidak terlalu padat, ia juga bisa menganggap ketersediaan air bersih dan tempat tinggal sebagai hal yang biasa. Di atas segalanya, ia memiliki kesempatan untuk memutuskan apa yang akan ia lakukan dengan hidupnya.
“Bagi saya, sangat penting untuk berada di antara orang-orang saya dan melihat seperti apa kehidupan mereka. Jika bukan karena kekuatan, keberanian, dan ketahanan ibu saya, itu bisa saja adalah saya dalam situasi tersebut.”
Potret Kehidupan di Kamp Pengungsian
Dadaab adalah rumah bagi lebih dari 400.000 pengungsi. Banyak dari mereka di kamp telah mengalami pernikahan anak, mutilasi alat kelamin perempuan (FGM), dan pelanggaran hak anak lainnya. Banyak lagi yang tidak memiliki akses ke pendidikan.
Ali mengenang pertemuannya dengan seorang wanita berusia 18 tahun yang sangat cantik di salah satu pusat ibu muda di Dadaab. “Dia mengatakan kepada saya bahwa impian hidupnya adalah menjadi supermodel,” kenangnya.
Namun, ia diperkosa pada usia 13 tahun dan melahirkan pada usia 14 tahun.
“Ketika dia melahirkan, dia bilang dia tidak lagi punya mimpi untuk menjadi model, karena dia merasa tubuhnya rusak,” kata Ali. Namun, wanita muda itu melihat ke depan. “Dia sekarang punya mimpi baru untuk menjadi dokter. Dia ingin bekerja keras agar bisa membantu gadis-gadis sepertinya, yang telah menderita hal serupa.”
“Itu impian barunya. Dia ingin menciptakan dunia yang lebih baik untuk dirinya dan putrinya,” tambah Ali.
Inspirasi dan Ketahanan
Kisah ini adalah salah satu yang menempatkan masalah sehari-hari ke dalam perspektif. “Itu membuat Anda menyadari bahwa Anda harus bersyukur atas semua yang Anda miliki, dan Anda tidak bisa lagi berpuas diri atas apa yang tidak Anda miliki,” kata Ali.
Kunjungan itu meninggalkan kesan mendalam padanya. “Sangat penting untuk menyaksikan itu dan melihatnya untuk pertama kali. Saya harus mengakui, ini adalah pengalaman paling inspiratif dan merendahkan hati yang pernah saya alami atau saksikan sepanjang hidup saya.”
Ia juga melihat langsung dampak pemotongan bantuan, yaitu pengurangan atau penangguhan signifikan dana untuk program bantuan luar negeri, terutama oleh Amerika Serikat. Inggris juga bersiap untuk mengurangi bantuan mulai tahun 2027.
Jatah air yang diberikan kepada pengungsi Dadaab telah dipotong separuh menjadi 8,5 liter per hari untuk mandi, memasak, dan minum. Di gurun yang didominasi debu dan panas, pengurangan itu membuat kondisi hidup semakin berat. Salah satu wanita muda yang ditemui Ali pingsan selama pertemuan karena dehidrasi.
“Dan itu akan berkurang lebih banyak lagi karena dalam dua tahun ke depan, lebih banyak bantuan akan dipotong,” ia memperingatkan. “Sangat sulit untuk menerima kenyataan bahwa orang-orang paling rentan di Bumi, anak-anak, adalah yang akan terkena dampaknya.”
Lebih dari Sekadar Petinju
Kisah hidup Ali memang tidak biasa bagi seorang wanita muda dari komunitas Muslim yang ketat. Ketika ia memulai kelas tinju sebagai gadis kecil, ia harus melakukannya secara diam-diam.
Kemudian, ia menjadi petinju Somalia pertama yang berkompetisi di Olimpiade dan yang pertama memenangkan medali emas internasional untuk negaranya dalam tinju. Namun, akar budayanya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pekerjaannya.
“Saya akan membangun. Saya akan mengangkat. Saya akan mendukung pria dan wanita kulit hitam lainnya dengan platform saya, olahraga saya, keuangan saya, dan waktu saya,” janjinya.
Kunjungan Ramla Ali ke Dadaab bukan hanya sekadar tugas seorang duta. Ini adalah perjalanan kembali ke akar, yang memperkuat tekadnya untuk menggunakan pengaruhnya sebagai atlet dan figur publik untuk memperjuangkan mereka yang paling rentan.
(OL/GN)
sumber : www.thestar.com.my
Leave a comment