Dominasi Tak Tertandingi Ali dan Debat Mayweather vs Hearns
Pada masa itu, divisi kelas berat terasa sepi tanpa kehadiran Muhammad Ali yang mendominasi. Para penantang lain seperti Thad Spencer, Jimmy Ellis, Ernie Terrell yang nyaris masuk sepuluh besar, serta Oscar Bonavena, Karl Mildenberger, Floyd Patterson, dan petinju-petinju lainnya, seolah tidak memiliki peluang berarti melawan Ali di akhir tahun 60-an. Ali benar-benar menguras talenta di divisi ini, dan masalahnya dengan pemerintah AS justru menjadi berkah bagi Joe Frazier serta petinju lainnya untuk bersinar. Faktanya, Floyd Mayweather tidak pernah mencapai dominasi di satu divisi seperti Ali di kelas berat pada tahun 1967.
Kompleksitas Pertarungan Hipotetis
Ketika membahas pertarungan hipotetis, banyak penggemar tinju sering melewatkan dua hal penting. Pertama, tidaklah relevan mempertemukan dua petinju yang rekor kariernya berada di kelas berat yang secara historis tidak mungkin mempertemukan mereka. Garis waktu dan kelas berat mereka tidak pernah sejajar. Kedua, faktor penentu apakah seorang petinju yang bertarung di lebih dari satu divisi bisa mengalahkan petinju lain yang juga multi-divisi, terlalu kompleks dan sulit diukur.
Floyd Mayweather Melawan Thomas Hearns: Perdebatan Ukuran dan Kekuatan
“Floyd akan terlalu kecil untuk saya.”
— Thomas Hearns
Meski begitu, saya sepakat dengan Thomas Hearns yang menyatakan bahwa Floyd Mayweather akan terlalu kecil untuknya. Petinju hebat seperti Bud Crawford, yang mungkin mengira Floyd bisa mengalahkan Hearns di kelas welter (147 pon), mungkin belum sepenuhnya memahami dinamika tinju dalam konteks pertarungan tersebut.
Floyd memang memiliki jangkauan luar biasa untuk ukurannya, yaitu 72 inci, yang ia manfaatkan dengan baik. Namun, Hearns memiliki jangkauan 78 inci, nyaris seperti petinju kelas berat. Sulit membayangkan bagaimana Floyd bisa mengatasi perbedaan tinggi, kecepatan, dan kekuatan itu.
Mereka yang meremehkan Hearns sering melupakan fakta bahwa di kelas welter, Hearns hanya pernah dikalahkan oleh seorang legenda sejati seperti Sugar Ray Leonard. Selain itu, Hearns adalah momok menakutkan bagi petinju yang berukuran seperti Floyd. Untuk memiliki peluang melawan Hearns, seorang petinju setidaknya harus memiliki tinggi 5 kaki 10 inci atau lebih. Secara visual, Hearns bisa jadi adalah pemukul terbaik dalam sejarah tinju saat melontarkan pukulan ke bawah.
Hearns memulai kariernya di kelas welter (147 pon) dengan kekuatan mematikan dan akurasi tinggi dari postur ‘tidak wajar’-nya yang hampir 6 kaki 2 inci. Sebaliknya, Floyd memulai di kelas bulu super (130 pon) dan tidak benar-benar membawa kekuatan pukulan dahsyatnya ke kelas welter seperti yang dilakukan Crawford. Jika Marcos Maidana, yang juga tidak memulai kariernya di 147 pon, mampu menjatuhkan gigi Floyd di kelas tersebut, bisakah Bud Crawford membayangkan dampak kekuatan pukulan Hearns terhadap Floyd?
Perdebatan ini menyoroti bagaimana perbedaan fisik fundamental, riwayat karier, dan adaptasi kekuatan ke kelas berat yang berbeda, menjadi penentu utama dalam skenario pertarungan impian yang seringkali luput dari perhatian penggemar dan bahkan beberapa petinju besar itu sendiri.
(OL/GN)
sumber : www.boxingscene.com
Leave a comment