Atletico Madrid dan Arsenal: Pertarungan Mencetak Sejarah di Semi-Final Champions League
Atletico Madrid dan Arsenal akan bertemu di semi-final Champions League musim ini. Selain memperebutkan tiket ke final yang akan dihelat di Budapest pada akhir Mei, kedua tim juga berusaha mencetak sejarah.
Kedua klub ini bisa dibilang merupakan yang terbesar tanpa gelar Champions League atau pendahulunya, European Cup. Atletico sudah tiga kali menjadi finalis, sementara Arsenal sekali, dan keduanya mungkin merasa iri pada tim-tim seperti Crvena Zvezda, PSV, dan Steaua Bucharest yang telah meraih titel kontinental.
Meskipun ketiga tim tersebut sering dianggap ‘lebih kecil’ dibandingkan Atletico atau Arsenal, mereka dapat berargumen bahwa prestasi mereka diukur dari jumlah trofi yang diraih. Tim-tim ini juga menyoroti perbedaan antara sepak bola sejarah sebelum era Champions League, serta sepak bola superklub yang dominan di abad ke-21.
Pada awal kompetisi Eropa, sepak bola masih memiliki keseimbangan yang lebih baik dibandingkan saat ini, ketika sistem pendapatan yang tidak setara berlaku. Dalam tabel keuangan terbaru Deloitte, Arsenal berada di urutan ketujuh, Atletico di urutan ketiga belas, dan Tottenham Hotspur, satu-satunya klub lain dalam 15 besar yang belum menjadi juara Eropa, di urutan kesembilan. Ajax yang sudah empat kali juara mungkin tersenyum melihat ketiga klub ini dianggap ‘lebih besar’ dari mereka, meskipun secara ekonomi, mereka memang lebih unggul.
1. Atletico Madrid
Ketika fans melihat kembali tiga final Atletico — 1974, 2014, dan 2016 — rasanya seperti memberikan darah. Di setiap pertandingan, tim ini tidak terkalahkan setelah 90 menit. Pada 1974, mereka memimpin hingga detik terakhir extra time, begitu juga pada 2014 hingga menit 90+3. Dua tahun kemudian, Atletico kalah melalui adu penalti.
Kekalahan dua dari tiga final tersebut melawan Real Madrid semakin menambah rasa sakit bagi penggemar. Jika ada satu fanbase di Eropa yang ‘pantas’ menyaksikan timnya mengangkat trofi legendaris ini, itu pasti Atletico Madrid.
Perjalanan Atletico di European Cup dimulai pada musim 1958-59. Setelah Madrid memenangkan La Liga dan European Cup pada musim 1957-58, Atletico ikut serta sebagai runner-up La Liga. Mereka mencapai semi-final, namun kalah dari Madrid, sehingga harus menjalani laga play-off yang dihelat jauh dari ibukota Spanyol. Madrid menang 2-0, menandai awal dari pola menyakitkan bagi Atletico.
2. Arsenal
Arsenal telah melakoni 372 pertandingan kompetitif dalam sejarah sepak bola Eropa. Manajer Mikel Arteta menekankan pentingnya timnya yang mencapai semi-final secara berturut-turut dalam kompetisi elit ini, karena cerita Arsenal di pentas Eropa tidak terlalu cemerlang.
Ketidakberhasilan Arsenal menjadi juara Inggris antara 1953 hingga 1971 menyebabkan mereka melewatkan era kejayaan awal European Cup. Debut Arsenal di European Cup terjadi pada 1971-72, namun mereka tersingkir di babak delapan besar oleh Ajax. Baru pada 1998, era Champions League dimulai dengan Arsene Wenger memimpin tim menuju kesuksesan, meski mereka hanya mampu mencapai perempat final.
3. Tottenham Hotspur
Jika Arsenal dianggap demikian, maka pertanyaan yang sama juga berlaku untuk Tottenham. Spurs baru-baru ini tersingkir dari Atletico di babak 16 besar dengan kekalahan telak 5-2. Tottenham juga memiliki kenangan pahit setelah kalah di final Champions League melawan Liverpool pada 2019.
4. Valencia
Valencia mencatatkan dua gelar La Liga pada awal tahun 2000-an, namun gagal meraih trofi European Cup. Mereka dua kali mencapai final Champions League, tetapi tidak berhasil meraih kemenangan.
5. Anderlecht
Anderlecht adalah klub Belgia yang memiliki sejarah panjang di kompetisi Eropa. Meskipun mereka belum pernah memenangkan gelar utama, klub ini telah mencapai semi-final dan quarter-final dalam beberapa dekade terakhir.
6. Panathinaikos
Klub Yunani ini sempat mencapai final European Cup di Wembley pada 1971, tetapi gagal meraih kemenangan. Sejak saat itu, meski telah bertahan hingga semi-final beberapa kali, mereka belum kembali ke level itu.
7. Saint-Etienne
Sebelum menjadi klub yang kurang kompetitif saat ini, Saint-Etienne pernah menjadi kekuatan di Prancis dan Eropa, meraih banyak gelar domestik dan mencapai final European Cup di Glasgow pada 1976.
8. Dynamo Kyiv
Dynamo Kyiv telah tiga kali mencapai semi-final European Cup dan Champions League, tetapi sayangnya selalu gagal melaju ke final.
9. Roma
Roma mencatat sejarah dengan mencapai final di stadion mereka sendiri pada 1984, tetapi harus mengakui keunggulan Liverpool dalam adu penalti. Mereka telah mengalami banyak kegagalan dalam partai final Eropa.
10. Stade de Reims
Reims adalah klub yang kini berjuang di liga bawah di Prancis, tetapi pernah menjadi raja sepak bola Eropa dengan mencapai final pertama European Cup. Meskipun mengalami keruntuhan, mereka memiliki sejarah yang tak terlupakan.
Dalam konteks ini, baik Atletico Madrid maupun Arsenal memiliki kesempatan untuk mengukir sejarah baru dan menempatkan nama mereka di antara tim-tim besar Eropa lainnya. Pertarungan seru ini tidak hanya akan menentukan tim mana yang melangkah ke final, tetapi juga memberikan kesempatan bagi kedua klub untuk membuktikan diri di panggung tertinggi sepak bola Eropa.
(LC/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment