Almiron Dikenakan Kartu Merah dalam Pertandingan Dramatis Paraguay Melawan Turki
Pelatih kepala Paraguay, Gustavo Alfaro, mengawali percakapan di ruang ganti setelah kemenangan dramatis 1-0 melawan Turki dengan mengatakan kepada Miguel Almiron: “Ubah ekspresi wajah itu.”
Almiron mengalami dampak besar setelah diberikan kartu merah langsung akibat menutup mulutnya, sebuah tindakan yang menjadi catatan sejarah dalam dunia sepak bola seiring dengan diberlakukannya aturan baru sebelum turnamen.
Insiden Kartu Merah
Di masa tambahan waktu babak pertama, wasit Ivan Barton menghentikan permainan akibat pelanggaran terhadap Isidro Pitta dari Paraguay, yang memicu keributan antara pemain kedua tim. Ketika keributan mereda, Almiron melewati Mert Muldur dari Turki dan menutupi mulutnya sembari tampak mengatakan sesuatu.
Muldur kemudian berlari menuju asisten wasit dan menunjuk Almiron sambil menirukan tindakan yang dilakukan oleh penyerang Atlanta United tersebut. VAR kemudian meminta wasit Barton untuk memeriksa monitor di pinggir lapangan dan Almiron pun harus meninggalkan lapangan.
Komentar Pelatih dan Rekan Tim
Pasca pertandingan, Alfaro menyatakan pada konferensi pers bahwa ia meminta Almiron untuk tidak merasa bersalah atas keputusan tersebut. “(Saya bilang) kita sudah menang. Jangan merasa bersalah tentang apa pun. Apa yang terjadi justru memunculkan semangat juang dari rekan-rekanmu,” jelas Alfaro.
Setelah pertandingan, saat para pemain Paraguay berkumpul untuk berdoa, Almiron menjadi orang pertama yang berbicara. Ia meminta maaf kepada rekan-rekannya atas kesalahannya dan situasi sulit yang ditimbulkan oleh tindakannya.
“Kartu merah itu memang menyakitkan,” ujar Julio Enciso, rekan setim Almiron. “Siapa yang tidak merasa sakit karena kartu merah di awal pertandingan? Tapi kami berjuang untuk Miguel.”
“Almiron memiliki komitmen yang besar terhadap tim,” tambah Alvaro. “Itulah mengapa ia merasa sangat terpukul. Sebagai pemain berpengalaman, hal seperti itu seharusnya tidak terjadi. Namun, kami ada untuk mendukungnya.”
Apakah Aturan Terlalu Ketat?
Walaupun Almiron mengetahui aturan dan konsekuensinya, wajar jika ada pertanyaan seputar simpatik terhadap tindakan ceroboh ini. Benarkah kebiasaan lama sulit diubah? Apakah kartu merah tersebut terlalu berat? Belum jelas apa yang dikatakan Almiron kepada Muldur, namun sebelum turnamen, wasit telah mengadakan pertemuan dengan semua pemain untuk menjelaskan aturan baru ini, termasuk yang menyatakan bahwa “setiap pemain yang menutupi mulutnya dalam situasi konfrontasi dengan lawan dapat dikenakan kartu merah.”
Aturan ini diterapkan untuk mencegah pernyataan yang berpotensi kasar tetap tersembunyi, menyusul insiden antara Vinicius Junior dari Real Madrid dan Gianluca Prestianni dari Benfica dalam sebuah pertandingan Liga Champions pada bulan Februari lalu.
Pemain dan pelatih dari kedua tim mengakui telah diinformasikan mengenai aturan tersebut dan menyetujui penerapannya. Kerem Akturkoglu dari Turki pun menyatakan, “Jika kamu menutupi mulut, mereka akan menganggap kamu mengatakan sesuatu yang kasar.”
Pelatih Turki, Vincenzo Montella menambahkan, “Aturan dibuat untuk dihormati, dan itu sudah seharusnya. Kami harus beradaptasi.” Alfaro juga menyetujui bahwa tindakan menutupi mulut memang berpotensi dikenakan kartu merah. “Tidak ada yang bisa saya lakukan tentang itu. Sayangnya, kami tidak memiliki pandangan lain tentang masalah ini.”
Kritik terhadap Penerapan Aturan
Namun, pelatih asal Argentina tersebut menganggap bahwa hukumannya terlalu berat. Almiron setidaknya akan absen di pertandingan terakhir fase grup Paraguay melawan Australia minggu depan, dan FIFA bisa memperpanjang skorsingnya, tergantung keputusan komite disiplin.
“Kartu kuning sudah cukup,” kata Alfaro dalam enam menit penjelasannya mengenai perkara ini. “Ada hal-hal yang dihukum terlalu keras, dan saya khawatir kita akan kehilangan esensi dari sepak bola.”
Dia juga menyoroti keindahan permainan yang sering kali diwarnai oleh gesekan, kompetisi, dan perjuangan. “Sepak bola adalah olahraga yang indah, dan kita perlu terus menyempurnakannya. Jangan sampai aturan menghalangi kita.”
Enciso menambahkan bahwa aturan yang ada terasa “sulit”. “Saya tidak bisa bicara banyak karena, pada akhirnya, rasanya seperti kami melawan semua orang,” katanya.
Alfaro mengungkapkan sulitnya menjalani “olahraga baru” ini dan mengkritik ketidakonsistenan terkait aturan lainnya, seperti lemparan ke dalam lima detik, atau saat kiper terhalang saat bola mati.
Dampak untuk Tim dan Pemain
Aksi Almiron mungkin tidak bijak mengingat ia sadar akan konsekuensinya, dan beratnya hukuman akan menjadi peringatan bagi pemain lain. Namun, peristiwa ini untuk sekali lagi mengangkat pertanyaan yang lebih luas: apakah sepak bola sudah terlalu diatur?
(LC/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment